Oleh; Mush’ab Abdurrahman
Hari ini 1 desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Menurut penggagasnya Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.
Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia. Setiap tahunnya mengambil tema yang berbeda-beda. Adapun tema yang di tetapkan oleh dunia internasional tahun ini adalah :“Universal Access and Human Rights : Akses Universal dan Hak Asasi Manusia” (http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/12/01/selamat-hari-aids-1-desember-2010 universal-access-and-human-rights/-12). Sedangkan Sub tema adalah Peningkatan hak dan akses pendidikan untuk semua, guna menekan laju epidemi HIV di Indonesia menuju tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium (MDG), sementara seruan yang akan terus dikumandangkan adalah : "STOP AIDS, TINGKATKAN HAK DAN AKSES PENDIDIKAN UNTUK SEMUA" (http://karodalnet.blogspot.com/2010/11/hari-aids-sedunia-2010.html)
AIDS di Indonesia ditangani oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan memiliki Strategi Penanggulangan AIDS Nasional untuk wilayah Indonesia. Ada 79 daerah prioritas di mana epidemi AIDS sedang meluas. Daerah tersebut menjangkau delapan provinsi: Papua, Papua Barat, Sumatra Utara, Jawa Timur, Jakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Fenomena Gunung Es
Sekitar 170.000 sampai 210.000 dari 220 juta penduduk Indonesia mengidap HIV/AIDS. Perkiraan prevalensi keseluruhan adalah 0,1% di seluruh negeri, dengan pengecualian Provinsi Papua, di mana angka epidemik diperkirakan mencapai 2,4%, dan cara penularan utamanya adalah melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung. Jumlah kasus kematian akibat AIDS di Indonesia diperkirakan mencapai 5.500 jiwa. Epidemi tersebut terutama terkonsentrasi di kalangan pengguna obat terlarang melalui jarum suntik dan pasangan intimnya, orang yang berkecimpung dalam kegiatan prostitusi dan pelanggan mereka, dan pria yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria. Sejak 30 Juni 2007, 42% dari kasus AIDS yang dilaporkan ditularkan melalui hubungan heteroseksual dan 53% melalui penggunaan obat terlarang (http://id.wikipedia.org/wiki/HIV/AIDS_di_Indonesia).
Dalam dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Hiv Dan Aids 2007-2010 oleh Komisi Penaanggulangan AIDS dilaporkan sejak awal abad ke 21 peningkatan jumlah kasus semakin mencemaskan. Pada akhir tahun 2003 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan bertambah 355 kasus sehingga berjumlah 1371 kasus, semantara jumlah kasus HIV positif mejadi 2720 kasus.Pada akhir tahun 2003 25 provinsi telah melaporkan adanya kasus AIDS. Penularan di sub-populasi penasun meningkat menjadi 26,26% . Peningkatan jumlah kasus AIDS terus terjadi, pada akhir Desember 2004 berjumlah 2682 kasus, pada akhir Desember 2005 naik hampir dua kali lipat menjadi 5321 kasus dan pada akhir September 2006 sudah menjadi 6871 kasus dan dilaporkan oleh 32 dari 33 provinsi. Sementara estimasi tahun 2006, jumlah orang yang terinfeksi diperkirakan 169.000 – 216.000 orang. Data hasil surveilans sentinel Departemen Kesehatan menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi HIV positif pada sub-populasi berperilaku berisiko, dikalangan penjaja seks (PS) tertinggi 22,8% dan di kalangan penasun 48% dan pada penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebesar 68%. Peningkatan prevalensi HIV positif terjadi di kota-kota besar, sementara peningkatan prevalensi di kalangan PS terjadi baik di kota maupun di kota kecil bahkan di pedesaan terutama di provinsi Papua dan Irian Jaya Barat. Di kedua provinsi terakhir ini epidemic sudah cenderung memasuki populasi umum (generalized epidemic). Distibusi umur penderita AIDS pada tahun 2006 memperlihatkan tingginya persentase jumlah usia muda dan jumlah usia anak. Penderita dari golongan umur 20-29 tahun mencapai 54,77%, dan bila digabung dengan golongan sampai 49 tahun, maka angka menjadi 89,37%. Sementara persentase anak 5 tahun kebawah mencapai 1,22%. Diperkirakan pada tahun 2006 sebanyak 4360 anak tertular HIV dan separuhnya telah meninggal.
Masih dalam dokumen tersebut disebutkan Para ahli epidemiologi Indonesia dalam kajiannya tentang kecenderungan epidemi HIV dan AIDS memproyeksikan bila tidak ada peningkatan upaya penanggulangan yang bermakna, maka pada tahun 2010 jumlah kasus AIDS menjadi 400.000 orang dengan kematian 100.000 orang dan pada tahun 2015 menjadi 1.000.000 orang dengan kematian 350.000 orang. Penularan dari sub-populasi berperilaku berisiko kepada isteri atau pasangannya akan terus berlanjut Diperkirakan pada akhir tahun 2015 akan terjadi penularan HIV secara kumulatif pada lebih dari 38,500 anak yang dilahirkan dari ibu yang sudah terinfeksi HIV.
Data dari Kemenkes pada pertengahan 2010, bahwa jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif dengan prosentase pengidap usia 20-29 tahun (48,1 persen) dan usia 30-39 tahun (30,9 persen). Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak heteroseksual (49,3 persen) dan IDU atau jarum suntik (40.4 persen). Sedangkan jumlah pengguna narkoba di Indonesia saat ini mencapai 3,2 juta jiwa, 75 persen di antaranya atau 2,5 juta jiwa adalah remaja (Syabab.com, 30/11/10)
Diberbagai daerah pengidap HIV/AIDS begitu sangat fantastis dan beragam kasusnya. Seperti di Surabaya, Angka pengidap HIV/AIDS saat ini bukan lagi didominasi oleh para pekerja seks komersial (PSK), melainkan justru berasal dari kalangan ibu rumah tangga. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, pengidap HIV/AIDS di Kota Surabaya paling tinggi dialami kalangan ibu rumah tangga (IRT). Menurut Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Surabaya, Ponco Nugroho, Kamis (11/11/2010), mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun petugas Dinkes Surabaya, sampai bulan Juni 2010 penderita HIV/AIDS di Surabaya mencapai 220 orang. Angka tersebut terus bertambah, dan sampai September 2010 menjadi 547 orang. Dari jumlah tersebut sedikitnya 16 pengidap telah meninggal dunia (http://jurnalberita.com/2010/11/waspada-pengidap-hivaids-surabaya-didominasi-ibu-rumah-tangga/). Tidak jauh berbeda dengan kota malang, menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang Enny Sekar Rengganingati, Minggu mengakui, peningkatan jumlah penderita dan yang terinveksi HIV/AIDS pada tahun ini (2010) cukup tinggi. Dari 900 orang penderita pada tahun 2009, saat ini sudah mencapai 1.500 orang (http://www.aidsindonesia.or.id/penderita-hivaids-kota-malang-capai-1-500-orang.html).
Kita semua pasti tahu angka-angka tersebut laksana fenomena gunung es. Data yang ditemukan masih sedikit bila dibandingkan dengan fakta dilapangan yang sebenarnya. Sudah hamper 22 tahun sejak pencanangan hari AIDS sedunia tahun 1988 tidak membuahkan hasil sedikitpun, justru semakin menambah daftar angka penderita HIV/AIDS di seluruh dunia. Kenapa hal ini bisa terjadi, peringatan hari AIDS hanyalah seremonial sesaat tanpa membuahkan hasil.
Salah Obat
Tema hari AIDS sedunia tahun 2010 yaitu Universal Access and Human Rights atau Akses Universal dan Hak Asasi Manusia” ini bila dicermati tidak menyentuh pada akar persoalan yang sesungguhnya. Pemerintah menilai bahwa bertambahnya penderitaHIV/AIDS khususnya di Indonesia karena kurangnya akses informasi bagi masyarakat khususnya generasi muda tentang bahaya HIV/AIDS beserta pencegahannya. Paradigma ini bisa kita krtisi sebagai berikut;
Pertama, pemerintah dalam hal ini KPAIDS atau kebanyakan LSM yang bergerak dibidang pencegahan HIV/AIDS salah dalam mendiagnosa akar persoalannya. Sesungguhnya persoalan AIDS ini tidak bisa dipisahkan dari sistem kehidupan negara ini yang berkiblat pada Barat yang manganut sistem kapitalisme. Kapitalisme membawa efek luas bagi kehidupan berupa kebebasan bertingkah laku. Kebebasan bertingkah laku telah menjerumuskan bangsa ini pada kebebasan seksual. Perilaku seksual yang liberal menjadi fenomena yang vulgar dinegeri ini.tidak hanya menimpa generasi tua,namun sudah menjalar kepada generasi mudanya. Sehingga tidak heran bila angka pengidap HIV/AIDS lebih dari separonya adalah usia produktif alias usia muda. Mengacu pada Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 2010, menunjukkan 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pra nikah. Beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pranikah juga dilakukan beberapa remaja. Misalnya saja di Surabaya tercatat 54 persen, di Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan. Dari kasus perzinaan yang dilakukan para remaja putri tersebut, yang paling dahsyat terjadi di Yogyakarta. Pihaknya menemukan dari hasil penelitian di Yogya kurun waktu 2010 setidaknya tercatat sebanyak 37 persen dari 1.160 mahasiswi di kota Gudeg tersebut menerima gelar MBA (marriage by accident) alias menikah akibat hamil maupun kehamilan di luar nikah.
Gambaran perilaku seks bebas (perzinaan) inilah yang menjadi akar masalah sebenarnya. Akan tetapi pemerintah sama sekali tidak ada upaya keras untuk melakukan pencegahannya. Bahkan dari segi undang-undangnya saja ‘mlempem’. Ambil contoh kasus perzinaannya artis Ariel Peterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari yang di usut hukumnya bukan perzinaannya tetapi berkutat pada penyebaran informasi elektronik yang berbau porno. Kalau demikian, akan banyak kasus perzinaan baik yang ‘legal’ (melalui lokalisasi PSK) maupun zina ‘sirri’ (sembunyi-sembunyi) dipastikan tidak akan ada tindakan hukum. Padahal melalui perzinaan inlah pintu masuk pertama dan utama tersebarnya virus HIV yang mematikan itu. Harusnya pemerintah lebih konsen pada akar masalah bukan hanya pada akibatnya saja. Berkutat pada perkara akibat saja melalaikan sebab, adalah pekerjaan kontraproduktif.
Kedua, anggapan bahwa kurangnya akses informasi tentang HIV/AIDS dirasa juga tidak tepat. Menjadi maslah adalah bukan sekedar urangnya informasi , namun yang lebih salah adalah kebenaran informasi tersebut. Bagaimana tidak tepat, kalau informasi yang diberikan oleh pemerintah selama ini khususnya solusi pencegahnnya adalah salah. Informasi memang penting tetapi kalau informasinya sesat hasilnya juga menyesatkan. Seperti yang diterangkan diatas solusi pemerintah tidak menyentuh pada akar masalah utamanya yaitu perilaku seks bebas akibat sistem kapitalisme.
Kita lihat solusi pemerintah guna mencegah HIV/AIDS yang bersumber dari UNAIDS (United Nation Acquired Immune Deficiency Syndrome) dan WHO melalui PBB Dalam kampanye pencegahan HIV/Aids, ada istilah ABCD. Ringkasnya, A=Abstinence alias jangan berhubungan seks; B=Be faithfull alias setialah pada pasangan, C=Condom alias pakailah kondom, atau D=no use Drugs atau hindari obat-obatan narkotika. Solusi yang ditawarkan tampaknya bagus. Namun, pada realitasnya program kondomisasi lebih menonjol. Padahal, orang bodoh pun tahu bahwa menyodorkan komdom sama saja dengan menyuburkan seks bebas. Apalagi, faktanya kondom justru dibagi-bagikan di lokasi-lokasi prostitusi, hotel dan tempat-tempat hiburan yang rentan terjadinya transaksi seks bahkan diberbagai daerah difasilitasi ATM kondom. Apa namanya kalau bukan menganjurkan seks bebas?
Selanjutnya, karena penularan HIV/Aids banyak terjadi pada pengguna narkoba terutama suntik, maka untuk mencegah penggunaan narkoba, para pecandunya diberi solusi dengan substitusi metadon. Metadon adalah turunan dari narkoba (morfin, heroin dkk) yang mempunyai efek adiktif (nyandu) dan menyebabkan “loss control” (tidak mampu mengendalikan diri). Dengan dalih agar tidak menggunakan narkoba suntik metadon pun ditempuh karena metadon melalui mulut. Padahal, “loss control” dapat menyebabkan perilaku seks bebas sebagai transmisi utama penularan virus HIV/AIDS.
Lebih ironis lagi adalah legalisasi penggunaan jarum suntik pada pecandu narkoba, dengan dalih agar tidak terjadi penggunaan jarum suntik secara bersama-sama. Padahal, langkah ini justru akan melestarikan penggunaan narkoba suntik. Siapa yang bisa menjamin jarum suntik akan digunakan sendiri? Sebab, fakta menunjukkan pengguna narkoba biasanya hidup berkelompok.
Selanjutnya, karena penularan HIV/Aids banyak terjadi pada pengguna narkoba terutama suntik, maka untuk mencegah penggunaan narkoba, para pecandunya diberi solusi dengan substitusi metadon. Metadon adalah turunan dari narkoba (morfin, heroin dkk) yang mempunyai efek adiktif (nyandu) dan menyebabkan “loss control” (tidak mampu mengendalikan diri). Dengan dalih agar tidak menggunakan narkoba suntik metadon pun ditempuh karena metadon melalui mulut. Padahal, “loss control” dapat menyebabkan perilaku seks bebas sebagai transmisi utama penularan virus HIV/AIDS.
Benarkan, solusi pemerintah jauh dari akar masalahnya. Seperti seorang dokter yang keliru mendiagnosa penyakit pasien, maka obat yang diberikanpun juga akan salah. Akibanya urung-urung pasien sembuh dari sakitnya yang terjadi sebaliknya, pasien bertambah sakit parah. Bayangkan bagaimana kalau jumlah pasiennya ratusan, atau jutaan??? Benar-benar salah obat!
Jangan Mau Dibawa Kapitalisme
Terbuktikan bahwa solusi pencegahan AIDS bersumber dari kapitalisme. Ini paradok sekali. Bagaimana bisa, kapitalisme sebagai sumber penyakit kok dijadikan obat penyembuh. Oleh karena itu jangan mau dibawa ke lubang yang sama yaitu kapitalisme. (Bersambung)
0 komentar:
Post a Comment